Tampilkan postingan dengan label kesehatan Untuk Wanita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesehatan Untuk Wanita. Tampilkan semua postingan

Depresi Pasca Keguguran Dapat Berlanjut Hingga Tiga Tahun



Wanita yang mengalami depresi dan kecemasan setelah keguguran dapat terus mengalami gejalanya bahkan jika mereka kemudian berhasil memiliki anak yang sehat. Kesimpulan tersebut diambil dari studi bersama para ilmuwan Inggris dan Amerika yang hasilnya dilaporkan dalam British Journal of Psychiatry (Maret, 2011).

Studi tersebut telah menanyai lebih dari 13.000 wanita hamil yang terdaftar dalam Studi Longitudinal Avon pada Orangtua dan Anak (Alspac). Mereka ditanyai pengalaman keguguran dan kelahiran mati sebelumnya, dan dinilai untuk gejala depresi dan kecemasan. Penilaian dilakukan dua kali selama kehamilan (pada minggu ke-18 dan 32) dan empat kali setelah melahirkan (pada minggu ke-8, bulan ke-8, 21 dan 33). Sebagian besar perempuan melaporkan tidak pernah keguguran. Sejumlah 2.823 perempuan (21 persen) mengalami satu atau lebih keguguran sebelumnya dan 108 (0,5 persen) pernah mengalami satu kelahiran mati sebelumnya.

Para peneliti menemukan bahwa wanita yang pernah keguguran di masa lalu memiliki tingkat kecemasan dan depresi yang lebih tinggi selama kehamilan, yang terus berlanjut sampai hampir tiga tahun setelah mereka melahirkan bayi yang sehat.

?Studi ini penting bagi keluarga wanita yang telah keguguran, karena sangat sering diasumsikan bahwa para wanita itu cepat pulih kembali. Namun, seperti yang ditunjukkan di sini, banyak yang tidak.? kata Prof. Jean Golding dari Universitas Bristol.

Dr Emma Robertson Blackmore, dari University of Rochester Medical Center, mengatakan: ?Penelitian kami jelas menunjukkan bahwa kelahiran bayi yang sehat tidak menyelesaikan masalah kesehatan mental yang dialami banyak wanita setelah keguguran atau kelahiran mati. Temuan ini penting karena ketika menilai apakah seorang wanita berisiko depresi kehamilan atau pasca melahirkan, kehilangan kehamilan sebelumnya biasanya tidak diperhitungkan dengan cara yang sama seperti faktor risiko lain seperti riwayat keluarga, peristiwa hidup yang menekan atau kurangnya dukungan sosial.?

?Depresi ibu dapat berdampak buruk pada anak-anak dan keluarganya. Jika kita menawarkan dukungan yang terarah selama kehamilan kepada wanita yang sebelumnya pernah kehilangan bayi, kita mungkin dapat meningkatkan taraf kesehatan ibu dan keluarganya.?

Hal ini juga menggarisbawahi kebutuhan bagi para bidan dan dokter untuk meluangkan waktu bersama pasiennya guna mendiskusikan kehamilan, kekhawatiran dan kecemasan mereka. Mereka perlu melihat apakah ada tanda-tanda depresi, sehingga bisa menawarkan nasihat dan perawatan yang tepat.

Depresi Pasca Keguguran Dapat Berlanjut Hingga Tiga Tahun



Wanita yang mengalami depresi dan kecemasan setelah keguguran dapat terus mengalami gejalanya bahkan jika mereka kemudian berhasil memiliki anak yang sehat. Kesimpulan tersebut diambil dari studi bersama para ilmuwan Inggris dan Amerika yang hasilnya dilaporkan dalam British Journal of Psychiatry (Maret, 2011).

Studi tersebut telah menanyai lebih dari 13.000 wanita hamil yang terdaftar dalam Studi Longitudinal Avon pada Orangtua dan Anak (Alspac). Mereka ditanyai pengalaman keguguran dan kelahiran mati sebelumnya, dan dinilai untuk gejala depresi dan kecemasan. Penilaian dilakukan dua kali selama kehamilan (pada minggu ke-18 dan 32) dan empat kali setelah melahirkan (pada minggu ke-8, bulan ke-8, 21 dan 33). Sebagian besar perempuan melaporkan tidak pernah keguguran. Sejumlah 2.823 perempuan (21 persen) mengalami satu atau lebih keguguran sebelumnya dan 108 (0,5 persen) pernah mengalami satu kelahiran mati sebelumnya.

Para peneliti menemukan bahwa wanita yang pernah keguguran di masa lalu memiliki tingkat kecemasan dan depresi yang lebih tinggi selama kehamilan, yang terus berlanjut sampai hampir tiga tahun setelah mereka melahirkan bayi yang sehat.

“Studi ini penting bagi keluarga wanita yang telah keguguran, karena sangat sering diasumsikan bahwa para wanita itu cepat pulih kembali. Namun, seperti yang ditunjukkan di sini, banyak yang tidak.” kata Prof. Jean Golding dari Universitas Bristol.

Dr Emma Robertson Blackmore, dari University of Rochester Medical Center, mengatakan: “Penelitian kami jelas menunjukkan bahwa kelahiran bayi yang sehat tidak menyelesaikan masalah kesehatan mental yang dialami banyak wanita setelah keguguran atau kelahiran mati. Temuan ini penting karena ketika menilai apakah seorang wanita berisiko depresi kehamilan atau pasca melahirkan, kehilangan kehamilan sebelumnya biasanya tidak diperhitungkan dengan cara yang sama seperti faktor risiko lain seperti riwayat keluarga, peristiwa hidup yang menekan atau kurangnya dukungan sosial.”

“Depresi ibu dapat berdampak buruk pada anak-anak dan keluarganya. Jika kita menawarkan dukungan yang terarah selama kehamilan kepada wanita yang sebelumnya pernah kehilangan bayi, kita mungkin dapat meningkatkan taraf kesehatan ibu dan keluarganya.”

Hal ini juga menggarisbawahi kebutuhan bagi para bidan dan dokter untuk meluangkan waktu bersama pasiennya guna mendiskusikan kehamilan, kekhawatiran dan kecemasan mereka. Mereka perlu melihat apakah ada tanda-tanda depresi, sehingga bisa menawarkan nasihat dan perawatan yang tepat.

Depresi Postpartum (Depresi Pasca Melahirkan)



Setelah melahirkan, banyak wanita memiliki suasana hati yang berubah-ubah. Mereka mungkin merasa bahagia di satu saat, kemudian sedih saat berikutnya. Beberapa wanita juga dapat kehilangan nafsu makan mereka, menderita masalah tidur, dan merasa sedih. Tapi, gejala ini seringkali disebabkan oleh ?baby blues? ? kondisi temporer yang dialami 50-80% wanita setelah melahirkan. Jika Anda tidak merasa lebih baik setelah seminggu atau lebih, Anda mungkin mengalami apa yang disebut sebagai depresi postpartum (depresi pasca melahirkan). Depresi postpartum memengaruhi sekitar 10-15% wanita setelah melahirkan.
Gejala

Gejala-gejala depresi postpartum tidak berbeda dengan depresi umum, di antaranya:

* Merasa gelisah atau murung
* Merasa sedih, putus asa, dan kewalahan
* Kurang energi atau motivasi
* Banyak menangis
* Makan terlalu sedikit atau terlalu banyak
* Tidur terlalu sedikit atau terlalu banyak
* Kesulitan berpikir atau membuat keputusan
* Memiliki masalah memori
* Merasa tidak berharga dan bersalah
* Kehilangan minat atau kesenangan pada aktivitas yang biasanya disukai
* Menarik diri dari teman dan keluarga

Penyebab

Depresi adalah penyakit mental yang cenderung menurun dalam keluarga. Wanita dengan riwayat keluarga depresi cenderung lebih mudah terkena depresi. Selain bakat bawaan, perubahan hormon setelah melahirkan diduga memicu depresi. Ketika Anda hamil, kadar hormon estrogen dan progesteron sangat meningkat. Dalam 24 jam pertama setelah melahirkan, kadar hormon tersebut dengan cepat kembali normal. Perubahan besar dalam kadar hormon dapat menyebabkan depresi. Ini mirip dengan perubahan hormon lebih kecil yang dapat memengaruhi suasana hati perempuan sebelum mendapat haid. Kadar hormon tiroid juga bisa turun setelah melahirkan. Tiroid adalah kelenjar kecil di leher yang membantu mengatur penggunaan dan penyimpanan energi dari makanan. Penurunan tingkat hormon tiroid dapat menyebabkan gejala depresi.
Pengobatan

Depresi postpartum dapat diobati dengan obat antidepresi dan konseling dengan psikiater. Jika Anda menduga seseorang yang Anda kenal mungkin menderita depresi postpartum, Anda harus berusaha membantu dia mengatasi masalahnya. Mereka seringkali enggan memeriksakan diri ke dokter karena takut mendapatkan stigma dari keluarga dan masyarakat.

Depresi Postpartum (Depresi Pasca Melahirkan)



Setelah melahirkan, banyak wanita memiliki suasana hati yang berubah-ubah. Mereka mungkin merasa bahagia di satu saat, kemudian sedih saat berikutnya. Beberapa wanita juga dapat kehilangan nafsu makan mereka, menderita masalah tidur, dan merasa sedih. Tapi, gejala ini seringkali disebabkan oleh “baby blues” – kondisi temporer yang dialami 50-80% wanita setelah melahirkan. Jika Anda tidak merasa lebih baik setelah seminggu atau lebih, Anda mungkin mengalami apa yang disebut sebagai depresi postpartum (depresi pasca melahirkan). Depresi postpartum memengaruhi sekitar 10-15% wanita setelah melahirkan.
Gejala

Gejala-gejala depresi postpartum tidak berbeda dengan depresi umum, di antaranya:

* Merasa gelisah atau murung
* Merasa sedih, putus asa, dan kewalahan
* Kurang energi atau motivasi
* Banyak menangis
* Makan terlalu sedikit atau terlalu banyak
* Tidur terlalu sedikit atau terlalu banyak
* Kesulitan berpikir atau membuat keputusan
* Memiliki masalah memori
* Merasa tidak berharga dan bersalah
* Kehilangan minat atau kesenangan pada aktivitas yang biasanya disukai
* Menarik diri dari teman dan keluarga

Penyebab

Depresi adalah penyakit mental yang cenderung menurun dalam keluarga. Wanita dengan riwayat keluarga depresi cenderung lebih mudah terkena depresi. Selain bakat bawaan, perubahan hormon setelah melahirkan diduga memicu depresi. Ketika Anda hamil, kadar hormon estrogen dan progesteron sangat meningkat. Dalam 24 jam pertama setelah melahirkan, kadar hormon tersebut dengan cepat kembali normal. Perubahan besar dalam kadar hormon dapat menyebabkan depresi. Ini mirip dengan perubahan hormon lebih kecil yang dapat memengaruhi suasana hati perempuan sebelum mendapat haid. Kadar hormon tiroid juga bisa turun setelah melahirkan. Tiroid adalah kelenjar kecil di leher yang membantu mengatur penggunaan dan penyimpanan energi dari makanan. Penurunan tingkat hormon tiroid dapat menyebabkan gejala depresi.
Pengobatan

Depresi postpartum dapat diobati dengan obat antidepresi dan konseling dengan psikiater. Jika Anda menduga seseorang yang Anda kenal mungkin menderita depresi postpartum, Anda harus berusaha membantu dia mengatasi masalahnya. Mereka seringkali enggan memeriksakan diri ke dokter karena takut mendapatkan stigma dari keluarga dan masyarakat.

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes